Warga Eropa Berharap Kebijakan Iklim yang Lebih Ambisius

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Perubahan iklim akan menjadi salah satu topik yang mendominasi kampanye pemilihan umum Eropa pada musim panas ini. Namun beberapa pihak percaya bahwa sebagian pemilih merasa muak dengan kebijakan iklim, dan akan beralih ke politisi yang membatalkan kebijakan iklim, mengurangi ambisi iklim, atau mengabaikan tindakan lingkungan sama sekali.

Sebuah laporan baru dari para peneliti di Oxford University, Humboldt University Berlin, dan Hertie School Berlin berusaha mengungkap apakah hal ini benar adanya.

Para peneliti mensurvei 15 ribu orang di Jerman, Prancis, dan Polandia mengenai perasaan mereka terhadap kebijakan iklim saat ini. Para pemilih ditanyai tentang apakah mereka berpikir bahwa kebijakan yang ada sudah terlalu jauh atau tidak cukup jauh. Mereka juga ditanyai mengenai 40 kebijakan spesifik untuk mengetahui mana yang paling populer dan tidak populer.

Para penulis laporan tersebut mengatakan bahwa hasil penelitian mereka membantah teori-teori tentang reaksi negatif terhadap kebijakan iklim menjelang pemilihan Parlemen Eropa tahun ini.

 

Menurut survei tersebut, sebagian besar masyarakat masih menginginkan kebijakan iklim yang lebih ambisius dan akan mendukung langkah-langkah konkret untuk menurunkan emisi.

“Ketika ditanya apakah kebijakan iklim yang ada saat ini sudah terlalu jauh atau belum cukup jauh, mayoritas orang atau 57 persen di Prancis, 53 persen di Jerman dan 51 persen di Polandia, mendukung tindakan lebih lanjut,” kata para peneliti seperti dilansir Euro News, Rabu (27/3/2024).

Dukungan mayoritas terhadap kebijakan iklim yang lebih ambisius tercermin dari keprihatinan masyarakat terhadap dampak perubahan iklim terhadap kehidupan mereka. Sekitar 60 persen orang di Polandia dan Jerman mengatakan bahwa mereka telah terkena dampak negatif dari perubahan iklim atau memperkirakan akan terkena dampak negatif dalam lima hingga 10 tahun mendatang.

Dampak kekeringan dan kekurangan air minum baru-baru ini mendorong angka tersebut hingga 80 persen di Prancis.

Terdapat minoritas yang cukup besar yang menentang aksi iklim yang lebih ambisius di ketiga negara tersebut. Sekitar 30 persen di Jerman dan Polandia, dan sedikit lebih rendah yaitu 23 persen di Prancis.

“Namun, kelompok ini relatif stabil dari waktu ke waktu. Jumlah orang yang menentang tampaknya tidak berubah dari survei serupa pada tahun 2021 dan 2022 meskipun ada narasi tentang meningkatnya reaksi keras terhadap kebijakan iklim menjelang pemilu. Dan hanya ada sedikit bukti bahwa oposisi ini didasarkan pada masalah material seperti lapangan pekerjaan,” kata peneliti.

Meskipun sebagian besar orang masih mendukung tindakan ambisius secara abstrak, pendapat mereka berbeda dalam hal kebijakan iklim yang konkret. Di ketiga negara tersebut, pelarangan mobil dengan mesin pembakaran internal berada di urutan terbawah dalam daftar pemilih. Pembatasan peraturan mengenai pemanasan gas dan minyak sangat tidak disukai di Jerman dan Polandia.

Mirip dengan survei-survei sebelumnya, para pemilih juga skeptis terhadap penetapan harga karbon, dengan gagasan untuk memberi label harga pada emisi yang sangat tidak populer untuk sektor perumahan dan transportasi.

Kebijakan yang paling populer adalah investasi pada infrastruktur ramah lingkungan seperti jaringan listrik atau transportasi umum. Para pemilih juga umumnya mendukung strategi seperti subsidi untuk membantu industri padat energi melakukan dekarbonisasi, atau memproduksi teknologi energi ramah lingkungan seperti turbin angin dan panel surya.

Survei tersebut juga menemukan adanya dukungan terhadap larangan penggunaan jet pribadi dan – kecuali di Polandia – pembatasan penerbangan jarak pendek. Secara keseluruhan, kebijakan dan peraturan yang tidak berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat sehari-hari cenderung populer. Langkah-langkah ini memberikan tekanan untuk mengurangi emisi pada otoritas publik dan perusahaan besar, bukan pada konsumen.

“Mengambil diagnosa umum mengenai reaksi buruk terhadap lingkungan hidup adalah sebuah kesalahan. Faktanya, sebagian besar pemilih masih mendukung kebijakan iklim yang lebih ambisius,” tegas peneliti.



Sumber: Republika